Gumpang(alabaspos), Saat musim panen raya buah kakao (coklat), selama satu bulan ini produksi biji buah kakao di kecamatan Putri Betung Kabupaten Gayo Lues meningkat secara tajam, puluhan ton biji coklat kering di produksi dari kecamatan ini setiap minggunya, terbatasnya lahan penjemuran membuat masyarakat menjemur biji coklatnya dipinggir badan jalan, mulai dari perbatasan dengan Aceh Tenggara hingga ke desa paling ujung di Kampung Kungke Jaya, setiap harinya badan jalan di penuhi dengan biji coklat masyarakat yang sedang dijemur atau dikeringkan, tidak heran jika melintasi kecamatan ini aroma asam dari biji coklat yang sedang dijemur meruak hidung kita.
"saat ini produksi biji coklat lagi panen raya, hampir disetiap kampung dikecamatan Putri Betung menanam tanaman kakao, dan tanaman kakao ini menjadi komoditi utama di kecamatan ini, produksi yang berlimpah saat ini menjadi kendala bagi kami, terutama untuk menjemur dan mengeringkan biji kakao ini, akibatnya badan jalan menjadi pilihan kami, kami paham ini dapat mengundang hal yang negatif, seperti laka lantas atau biji coklat terlindas kenderaan, namun kami sendiri tidak memiliki lahan untuk menjemur biji coklat ini, dan pilihannya adalah jalan raya selain cepat kering juga tidak perlu tikar, biji coklat cukup diserakkan di pinggir jalan, jika cuaca panas terik dua hari saja biji coklat sudah kering dan dapat dijual" ujar beberapa pemilik kebun coklat kepada media ini 5/11.
Berlimpahnya produksi biji coklat di kecamatan Putri Betung, tidak berimbas pada harga dimana harga biji coklat di Kecamatan Putri Betung akhir akhir ini mengalami penurunan, sebelumnya harga biji colkat kering diterima pedagang pengumpul. dengan harga Rp 30 ribu perkilogramnya, namun belakangan ini harga anjlok menjadi Rp 25 ribu hingga Rp 26 Ribu perkilogramnya, padahal menurut warga yang mengaku sering membuka internet, bahwa harga biji kakao tidak mengalami penurunan, namun kenapa pihak pedagang pengumpul menurunkan harganya? .
"kami berharap agar Pemerintah Kabupaten Gayo Lues untuk melihat kondisi harga kakao di kecamatan Putri Betung, jika setiap panen raya begini yang menjadi korban adalah petani pekebun coklat, harga selalu turun, kami minta Pemkab Gayo Lues dapat memback up masalah harga biji coklat ini, sehingga petani coklat tidak menjadi bulan bulanan dari pedagang pengumpul" ujar warga dengan kecewa.
Kecamatan Putri Betung merupakan sentra produksi biji kakao di Kabupaten Gayo Lues, setiap harinya belasan ton biji coklat kering, keluar dari daerah ini menuju Kutacane Aceh Tenggara, sudah selayaknya Pemkab Gayo Lues memperhatikan masalah harga biji kakao kering ini, agar petani tidak menjadi korban harga dari pedagang pengumpul.(azl)