Blangkejeren (alabaspos.com), peristiwa banjir besar yang melanda hampir semua kawasan dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Gayo Lues pada 26 Nopember 2025 lalu,benar benar sebuah peristiwa alam yang pertama terjadi di kabupaten seribu bukit ini,tidak ada catatan dalam sejarah di daerah bumi tari Saman tersebut yang menceritakan atau menuliskan sebuah peristiwa alam berupa banjir dan longsor secara bersamaan di seluruh kawasan memporak porandakan semua sendi sendi kehidupan masyarakat,menghanyutkan ribuan rumah, menghancurkan ratusan jembatan rangka baja dan jembatan gantung,menggulung sarana badan jalan Nasional,jalan Provinsi dan jalan Kabupaten, merenggut nyawa manusia,dan melumpuhkan seluruh sendi sendi kehidupan yang sudah tertata sejak Kabupaten ini lahir pada 2002 lalu dari Kabupaten induk Aceh Tenggara.
Kini nyaris semua fasilitas umum mengalami kerusakan dan kehancuran,Pasca bencana alam Gayo Lues memasuki fase keterisolasian dari hampir semua kabupaten tetangganya,yang juga mengalami hal yang sama,namun tidak separah di Gayo Lues, Bupati Gayo Lues Suhaidi sudah melempar handuk kepada pemerintah pusat untuk segera mengambil alih penderitaan dan beratnya beban yang sedang di pikul pemerintahannya di Kabupaten Gayo Lues.tentunya hal ini harus segera direspon oleh pemerintah pusat,untuk segera melakukan upaya upaya meredam masa panik dengan mengalirkan seluruh bantuan dan kebutuhan masyarakat dan menetapkan waktu masa panik,melakukan terobosan secepat mungkin membuka akses dan membebaskan masyarakat Gayo Lues dari keterisolasian,jika hal ini terlambat ada seratus ribu jiwa lebih warga negara Indonesia disana akan mengalami krisis kemanusiaan seperti masalah kelaparan,masalah kesehatan dan masalah sosial lainnya.
Bayangkan saja dua minggu pasca bencana alam terjadi Gayo Lues belum juga dapat akses keluar,jikapun ada akses hanya ke Kabupaten Abdya (Aceh Barat daya), namun jalan menuju sangat ekstrim,untuk mengatasi kebutuhan masa panik ini,sudah sewajarnya pemerintah pusat melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah,paling tidak menyiapkan pesawat terbang berbadan kecil untuk memasok kebutuhan dari Aceh Tenggara ke Gayo Lues,penerbangan antara Gayo Lues dan Aceh Tenggara hanya sekitar 25 menit,jika sehari saja bisa dilakukan penerbangan sebanyak 5 kali, tentunya kebutuhan masyarakat bisa diatasi,dan masyarakat yang sakit harus di rujuk ke Aceh Tenggara bisa dilakukan.kenapa kita tidak belajar dari banyaknya Kabupaten di Papua yang mana semua kebutuhan masyarakatnya di lakukan dengan pesawat terbang,karena jalur darat belum tersedia.untuk akses ke pedesaan harus dilakukan jalur alternatif paling tidak dengan sepeda motor untuk distribusi bantuan,Kini Gayo Lues dalam urusan pemerintahan pusat dalam menangani masalah bencana alam yang terjadi, tentunya dengan kehadiran presiden Prabowo ke Aceh Tenggara dan melihat Gayo Lues dari atas langit,kita tunggu apakah Prabowo secepatnya dapat mengembalikan Gayo Lues kembali berseri,atau sebaliknya.wait and see.