Kutacane(alabaspos.com), Kelangkaan Gas di Kabupaten Gayo Lues membuat masyarakat semakin resah dan bingung,pasca banjir dan longsor sudah memasuki hari ke 24 keberadaan Gas Melon khususnya sangat sulit didapatkan masyarakat jika pun ada yang menjual harga menggila sampai Rp 60 pertabung walaupun Gas Melon merupakan barang subsidi pemerintah kondisi jalan yang belum dapat dilintasi kendaraan khususnya truk pengangkut membuat Gas tidak ada pasokan,sedangkan untuk gas non subsidi dilaporkan harganya mencapai lebih dari Rp 200 ribu pertabung besar.
" Kacau bang gas memang hilang dan langka di Blangkejeren kalaupun ada harganya selangit,makanya aku paksakan turun mencari gas ke Kutacane ini,pagi subuh aku berangkat bawa tabung gas kosong beberapa tabung saja,titipan saudara saudara dan tetangga di Blangkejeren sore ini harus kembali lagi ke Blangkejeren mungkin malam hari nanti baru sampai di Blangkejeren jika tidak ada halangan dijalan,jalan memang sudah dapat dilintasi kendaraan roda empat tapi harus mobil double gardan kalau mobil biasa masih agak sulit,kalau sepeda motor Alhamdulillah lancar mudah mudahan jalan segera rampung dan semua jenis kendaraan dapat melintasinya agar tidak susah kali kami rasakan di Gayo Lues sana,sudah 24 hari pasca bencana belum semua kondisinya normal,masih ada desa yang terisolir,listrik padam hanya kawasan tertentu listrik menyala itupun setiap hari bergiliran padamnya." Ujar warga Blangkejeren kepada bertemu dengan awak media ini di Desa Aunan Sepakat Kecamatan Ketambe Aceh Tenggara 19/12/2025,didalam keranjang yang digantung dibelakang sepeda motornya terlihat beberapa tabung gas melon yang sudah berisi.
Terkait dengan kelangkaan Gas di Gayo Lues ratusan emak emak sempat mendatangi dan menggelar aksi demo ke Pendopo Bupati setempat,adanya aksi demo emak emak (ibu rumah tangga) ini membuat Bupati, wakil bupati harus berjibaku mencari solusi dengan meminta pihak distributor yang ada di daerahnya mencari dan membawa Gas ke Gayo Lues dikabarkan 7 truk pengangkut Gas melalui Aceh Barat daya (Abdya) secepatnya.
Namun untuk kecamatan Putri Betung sebagian besar kini kondisi ekonomi masyarakat sudah mulai bangkit perlahan pasca bencana lalu, soal Gas dan kebutuhan lainnya bisa mereka dapatkan ke Aceh Tenggara yang jaraknya tidak terlalu jauh dan jalan sudah dapat dilintasi kendaraan roda empat.begitu juga dengan hasil pertanian mereka para pengepul sudah mulai datang untuk membeli atau paling tidak mereka dapat menjualnya di kecamatan Ketambe yang berbatas langsung dengan kecamatan Putri Betung