Masyarakat di kawasan Bumi Louser Antara mulai dari Kabupaten Singkil,Kota Subulussalam,Aceh Tenggara,Gayo Lues hingga Aceh tengah dan Bener Meriah, jenis ikan sejenis belut,yang biasa disebut dengan Dundung merupakan menu makanan yang tak asing lagi dan merupakan makanan yang paling diminati, selain rasanya yang khas,Dundung diyakini memiliki nilai nutrisi cukup tinggi.Habitat jenis ikan berwarna hitam dengan garis garis putih yang buram ini,hidup berbagai sungai yang ada dikawasan daerah ini,terutama dikawasan sungai sungai pegunungan bukit barisan ,terutama dalam kawasan ekossistem louser,yang berarus deras dan berbatuan,dan biasanya ikan yang mirip belut tersebut,lebih menyenangi bersembunyi dibalik bebatuan didasar sungai.bagi masyarakat Singkil,Aceh tenggara dan Gayo Lues dundung merupakan ikan yang bergengsi jika dijadikan lauk pauk,bahkan untuk disajikan di kedai nasi saja,ikan ini sudah tidak terlihat lagi,bagi penggemar ikan dundung,untuk mendapatkannya,juga tidak mudah,dipasar Kuta Cane Aceh Tenggara ,Blangkejeren Gayo Lues maupun dipasar Subulussalam serta Singkil,Dundung sangat jarang dijumpai,beberapa pedagang ikan air tawar menjelaskan ,Ikan dundung biasanya diantar oleh masyarakat yang berdiam dikawasan pinggiran sungai Alas yang berhulu di Gayo Lues ,bermuara di Singkil,”kalau ada itu sangat jarang sekali ,paling tidak seminggu sekali memang ada ,tetapi tidak banyak hanya beberapa ekor saja,” ujar pedagang ikan dipasar Kuta cane sedangkan dipasar Blangkejeren bahkan dalam sebulan sekali,sangat sulit menemuinya,”kalau adapun ikan itu datang dari kawasan kecamatan Putri Betung,sebab ikan dundung itu,disungai alas masih ada ,kalau disungai lain,bahkan sudah berkurang sama sekali,walaupun ada susah mendapatkannya,ujar seorang pengail dundung yang akan menjual ikan dundung tangkapannya kepada pedagang ikan di Pasar Blangkejeren,tidak tanggung tanggung ,harga ikan dundung yang panjang lebih dari ukuran anak seorang siswa SMP itu dihargai nyaris mencapai harga satu juta rupiah,karena memang ikan ini mahal sipedagang tak lama lama menunggu dia langsung membayarnya,’sebentar lagi ikan ini akan habis,nggak rugi kita membelinya,ujar sipedagang dan memotong dundung beberapa bagian kecil .satu potong ukuran daging dundung sebesar piring kecil,dijual seharga Rp 50 ribu..seorang ibu yang hendak membeli dundung mengatakan ,kelezatan daging dundung ini,sangat beda dengan ikan lainnya,seratnya halus,dagingnya empuk dan paling enak kalau digulai asam jaing,,(asam pedas) papar si ibu.,bagi pengail dan penangkap ikan di aliran sungai ,Alas mengatakan sejak beberapa tahun belakangan ini,keberadaan ikan Dundung maupun ikan gegaring (jurung) sudah semakin menyusut,ini akibat ulah beberapa warga yang selalu menggunakan Bom ikan atau meracun sungai,sehinggga bibit bibit ikan yang masih kecil tak sempat berkembang,anak anak ikan itu ,mati akibat terkena racun atau bom ikan,beberapa pengail atau penangkap ikan di kawasan Desa Marpunge di Gayo Lues ,mengeluhkan hal yang sama,kalau dulu air sungai Alas meluap,masyarakat dialiran sungai akan ketiban rezeki.ikan gegaring maupun ikan lainnya,akan mabuk dan berenang kepinggiran sungai,saat ini,dijala atau dipancing saja sudah susah mendapatkannya, papar seorang pengail dan penjala ikan yang biasa dipanggil Aman Nipak,masyarakat berharap tentunya Pemkab Agara dan Gayo Lues mau turun tangan agar pemboman ikan dan meracunnya,benar benar dilarang,sehingga ikan ikan langka yang hidup dialiran sungai ini,tidak musnah, Pro 1