Blangkejeren(alabaspos.com), Perasaan sedih,kecewa dan emosi sepertinya berkecamuk didada aman Sibar 52 tahun (bukan nama sebenarnya) warga Kampung Ramung Musara kecamatan Putri Betung,saat bertemu dan bercerita kepada awak media alabaspos.com Jumat 27/6/2025 di teras rumahnya.
"Bayangkan saja pak,bagaimana hati ini tidak sedih dan berkecamuk tiba tiba aparat memasang plang pelarangan untuk memasuki kawasan hutan yang diklaim sebagai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL),kami sudah puluhan tahun tinggal dan berusaha dilahan yang kami usahakan selama ini, tiba tiba diklaim pemerintah sebagai TNGL dan jika dibaca di plang larangan itu tidak boleh memasuki kawasan hutan,tidak boleh mengambil,mencuri hasil hutan dan sebagainya,ini sama saja menuduh kami sebagai pelaku pencuri dilahan yang kami kerjakan selama puluhan tahun ini,artinya hasil dari keringat kami rezeki kami dari apa yang kami tanam seperti coklat dan kemiri adalah barang haram karena tanpa izin dari pihak yang berwenang,sebenarnya siapa pemilik bumi ini? Pemerintah Indonesia atau Allah SWT?, sedih rasanya pak,kami merasa dihujat dan dituduh mencuri jika memasuki kawasan lahan kami.kami disini sudah ada sebelum munculnya aturan tentang TNGL,dan yang menjadi pertanyaan kami selaku warga,apakah pemerintah bertindak semena mena? tanpa sosialisasi dan pemberitahuan tanpa basa-basi dengan pengawal aparat negara bersenjata lengkap,langsung melakukan pemasangan plang larangan? Kami bisa apa? cuma mengelus dada melihat rombongan yang memasang plang itu didepan rumah pengulu (kades) kami." Ujar Aman Sibar dengan mata berair sembari mengaku merasa cukup was was jika pergi ke kebunnya untuk mengutip hasil jerih payahnya selama ini.
Ayah dari empat anak ini menceritakan dirinya tinggal di Kampung Ramung Musara ini sekitar tahun 1980 saat itu kendaraan pun masih sedikit yang melintas dari Blangkejeren menuju Kutacane atau sebaliknya,dirinya hanya punya dua hektare lahan yang ditanami dengan coklat dan sebagainya tanaman kemiri dan dari lahan itulah dia bisa bertahan hidup bersama keluarganya,kami serba sulit dengan adanya aturan yang dikeluarkan pemerintah itu,kami cuma bisa pasrah karena kami sendiri tidak tahu mau mengadu kemana,kalau di gusur pun kami tidak tahu mau kemana.ujarnya dengan nada yang lemah.