Sosial Ekonomi

Pedagang Pasar Terpadu Menjerit Hutang Belum Lunas Malah di Suruh Pindah

Redaksi
dok azhari lubis/alabaspos
Inilah Los terbuka yang sudah dibangun oleh pedagang dengan membuat dindingnya

Blangkejeren(alabaspos), Saat awak media ini melintas memasuki kawasan pasar terpadu Blangkejeren, beberapa pedagang langsung menghampiri, dan mempertanyakan kenapa mereka harus digusur, padahal padahal kami pedagang yang dipindahkan dari pasar pagi Kuteblang, tadi petugas dari Prindagkp datang kemari, dan memerintahkan kami untuk segera pindah, kami tidak tahu lagi mau mengadu kemana, ke Bupati sudah kami sampaikan tetapi belum ada respon, apakah kami memang tidak boleh lagi mencari rezeki untuk menghidupi anak dan keluarga, tolonglah beritakan keluhan kami ini, ujar beberapa pedagang pada minggu siang 12/8.


Saat ditanyakan apa masalah yang dihadapi para pedagang itu, secara bergantian para pedagang tersebut menyampaikan masalah yang mereka hadapi.


Masalahnya begini ujar pedagang wanita setengah baya. sebelum kami pindah ke pasar terpadu ini, kami berjualan di pasar pagi, lalu diminta pindah ke Pasar terpadu, kami menurut dan patuh, tetapi kami tidak mendapat kios, lalu diberikanlah los terbuka ini, karena dagangan kami tidak mungkin harus setiap hari dibawa pulang, kami membangunnya dengan membuat dinding dan menjadikan kios, saat itu tidak ada larangan, artinya kami diperbolehkan dan ijinkan, namun saat ini kami diperintahkan untuk pindah, tetapi lokasinya kiosnya tidak tahu dimana, kami mencoba bertanya pada petugas yang datang tadi, jawabnya barang barang kami bawa saja kerumahnya, inikan sangat menyakitkan, kalau memang kami mau dipindahkan, harusnya siapkan kios untuk kami dipasar terpadu ini, itukan masih banyak yang kosong yang tidak ditempati, tetapi alasannya kios kios itu sudah ada punya, kalau ada yang punya kenapa tidak ditempati, inikan sangat janggal sekali, sementara kami harus disuruh pindah.


Kemudian seorang pria lainnya yang juga berjualan dilokasi itu, menuturkan dirinya bukan tidak mau pindah, tetapi siapkanlah kiosnya, dan kenapa tiba tiba lokasi pasar los ini, katanya mau dibangun dipasang lantai keramik, kemudian memasang plafonnya, kalau memang itu sudah direncanakan, harusnya saat pindah kemari, kenapa kami dibiarkan membangun dinding dan kami jadikan kios, harusnyakan dilarang, kalau memang sudah direncanakan , anehnya kenapa harus los yang empat ini mau direhab, sedangkan berbagai fasilitas lainnya belum ada di pasar terpadu ini, seperti air bersih, sarana jalan dan fasilitas lainnya, tentunya sarana yang kurang itulah dibangun dahulu, kenapa harus los terbuka ini.


Kemudian datang lagi seorang wanita berusia sekitar limapuluh tahun, dengan berlinang air mata, dirinya mengeluarkan isi hatinya, dimana sebelumnya wanita paruh baya itu mengaku memiliki kios dipasar pagi, kios itu baru saja dibelinya dengan harga Rp 22 juta, itupun uangnya dia pinjam, namun belum lama berjualan, sudah diperintahkan pindah ke pasar terpadu dan mendapat lapak di pasar los (pasar terbuka), kemudian lapaknya dijadikan kios dengan membuat dindingnya serta pintu kios, tentunya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, jika kondisi ekonomi seperti dirinya, lalu kami mau dipindahkan begitu saja, hutang lama belum lagi lunas, tetapi usaha kami harus dipindahkan tanpa lokasi yang jelas, ini sangat pahit sekali kami rasakan, ujar wanita itu dan air matanya terus mengalir dari celah celah pelupuk matanya.




Para pedagang kecil ini berharap agar Bupati Gayo Lues, dapat memperhatikan nasib mereka dan memberikan solusi yang baik, sehingga masalah yang dihadapi oleh para pedagang tersebut tidak berlarut larut.(azl) 


Situs ini menggunakan cookies.