Gayo Lues

Pedagang Pasar Terpadu Protes Soal Ternak dan Sampah Yang Menumpuk

Redaksi
Ternak Lembu selalu konflik dengan pedagang pasar terpadu Blangkejeren.



Blangkejeren(alabaspos.com), Lokasi Pasar terpadu Blangkejeren bukan hanya sebagai tempat terjadi transaksi jual beli warga masyarakat untuk kebutuhan sehari hari, namun faktanya menjadi lokasi pembuangan sampah dan kawasan ternak .


" Coba lihat dibawah sana dekat jembatan itu, lokasi pasar ini sudah menjadi lokasi pembuangan sampah,yang parahnya lagi sampah yang bertimbun dan berserak sangat jarang diangkut ke TPA,terkesan dibiarkan,memang dilokasi ada kontiner sampah,namun sampahnya tidak dimasukkan kesana,sampah sampah dari pasar ini dikumpulkan pekerjanya di lokasi pasar ini juga.tidak dimasukkan ke kontiner,alasannya mereka ngk kuat untuk menaikkan sampah kedalam kontiner karena sebagian besar pekerjanya kaum wanita.menumpuknya sampah ini sangat mengganggu bagi pedagang pemilik kios dan lapak begitu juga para calon pembeli,aroma bau busuk membuat orang yang melintas harus tutup hidung,bukan itu saja pedagang pemilik kios disini juga mulai merasakan gatal gatal diduga akibat dari sampah yang berserak itu."

ujar Lihin pedagang pasar terpadu.


Bukan soal sampah saja yang membuat pedagang maupun calon pembeli merasa tidak nyaman berada di lokasi pasar yang mulai digunakan beberapa bulan Muhammad Amru dilantik sebagai Bupati Gayo Lues Tahun 2017 lalu.masalah ternak lembu dan kambing setiap hari bahkan mulai pagi hari, sudah berkeliaran dipasar ini.akibatnya konflik antara pedagang dan ternak rutin terjadi, ternak ternak ini terkesan sudah biasa dipasar ini, sebab kalau diusir saat memakan dagangan pedagang ada yang tidak bergerak, kerugian pedagang akibat gangguan ternak ini tidak sedikit,sebab bukan hanya sayuran yang dimakan bahkan gula,beras kacang kacangan dan dll harus ditanggung pedagang ketika ternak ternak ini singgah di kiosnya. Ternak ternak yang jumlahnya puluhan ekor ini terkadang bergerombol masuk kawasan pasar beberapa warga yang berbelanja di pasar ini mengaku sangat takut jika ternak ternak ini berada di pasar sebab beberapa kasus pernah terjadi warga yang mau berbelanja diseruduk Lembu.


Memang kondisi pasar terpadu saat ini terkesan kurangnya perhatian dari instansi terkait, padahal pedagang membayar sewa kios,membayar uang Cok setiap hari dan menjadi PAD bagi Daerah ini.tetapi masalah sampah dan ternak yang mengganggu belum dapat diatasi dengan baik, sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi warga melakukan transaksi di pasar ini.


Sebelumnya sampah pasar terpadu dikumpulkan di tepi jalan didepan kawasan pasar dengan menyiapkan kontiner sampah oleh Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, disini juga sering tidak diangkutnya sampah hingga menumpuk dan menimbulkan aroma tak sedap, entah apa alasannya lokasi pengumpulan sampah dipindahkan kedalam pasar, dan disini juga sampah tidak rutin diangkut ke TPA.


Penulis: Azhari Lubis

Situs ini menggunakan cookies.